Ikhlas merupakan sumber kedamaian -Rini Suryani-

Minggu, 22 Maret 2015

Puisi Pagi: Tatapan Cinta

Saat ku terbangun mentari pagi begitu menyilaukan, langit cerah membuat mataku takjub akan indahnya dunia ini...

SubhanAllah sungguh indahnya dunia yang diciptakanMu ya Allah...

Ketika sebuah sosok muncul di benakku, sosok itu bukan siapa-siapa. Mungkin itu jodohku kelak.
Pikiran-pikiran nakal mulai berdatangan. Mengusik dan memaksaku untuk membayangkan banyak hal. Bersama sosok itu.

Imajinasi mulai liar. Sulit tuk dikendalikan. Aku membayangkan duduk bersamanya di bawah sinar rembulan. Terang. Indah. Dan menawan.

Ditemani lagu sendu bernada romantis. Kita berdua terlihat canggung namun saling memeluk di dalam hati.

Duduk berdampingan. Di sebuah pantai dengan desiran ombak. Aku menatapnya, dan mataku berkata "Aku Mencintaimu dengan Segenap Hatiku". Mata kami bertemu, lalu dia tersenyum. Mengambil kepalaku dan menyandarkan di bahunya. Merangkul dengan hangat.

Malam itu kami tak banyak bicara. Rangkulan dan tatapan telah menjawab segalanya. 

Cinta tak membutuhkan banyak kata untuk mengungkapkannya. 

Cinta dapat tersampaikan walau hanya dengan sebuah tatapan.

Sabtu, 22 November 2014

Bukanlah Takdirku

Setelah beberapa waktu...

Wah gak nyangka hampir setahun yang lalu kita pernah dekat. Yaa tapi sudahlah.

Masih hal yang sama yaitu rindu.

Ketika malam mulai datang, perasaan itu hadir lagi. Aku tak menginginkannya namun ia tetap hadir.
Ketika pagi mulai tampak rasa itu kembali hadir. Entahlah mengapa ia tetap melekat dan menghantui. Mengapa engkau hadir lagi?

Di hari yang hampir bertepatan dengan awal kita mengakui perasaan masing-masing, bayangmu kembali berkelebat di pikiran.

Setelah beberapa bulan hubungan ini merenggang, seharusnya ini waktu yang cukup untuk menghilangkannya, namun mengapa engkau masih saja hadir?

Aku masih memiliki rasa yang sama, sometimes aku masih merindukanmu. Bahkan jika mulai datangnya malam, bayangmu menghampiriku.
Mungkin aku memang telah menyibukkan diri. Telah membuat pikiranku penuh sehingga kenangan itu tak datang lagi. Tapi mengapa kenangan itu mendadak muncul?

Masih berbicara tentang rindu. Aku merindukan "Kita" yang dulu. Mungkin aku tidak menangis lagi, tapi dada ini masih terasa sesak.

Yaa sudahlah. Aku hanya merindu. Hanya mengingat kenangan itu. Tapi tenang saja aku tidak berharap lagi. Mencoba untuk selalu kuat.

Dulu aku selalu berharap engkau adalah jodohku. Hubungan kita akan berlanjut terus berlanjut hingga menjadi semakin dekat dan serius. Namun dengan banyaknya hambatan dan akhirnya merenggang sebelum menjadi hubungan yang serius, aku mulai sadar kita memang tak diizinkan bersama.

Berjalan berdampingan tidak sesuai dengan kita. Mungkin menurutmu aku bukan tipemu, mungkin menurutku kamu tak sesuai untukku. Pikiran kita tak pernah sejalan, ada saja yang salah kala itu.

Rasa ini terus muncul, mungkin karena aku menutup diri. Mungkin juga karena aku tak ingin membuka celah untuk orang lain. Sudahlah memang aku belum ingin jatuh cinta lagi.

Tapi setidaknya rasa ini tidak seperti dulu, tidak berharap seperti dulu. Rindu yang kadang hadir sepertinya hanya pelampiasan dari rasa kesepianku.

Kini aku mulai sadar dan yakin, kita memang tak sejalan.

Karena kamu bukanlah takdirku...

Selasa, 28 Oktober 2014

Aku Rindu.

Hari ini bertepatan dengan hari sumpah pemuda haha tapi gak ada hubungannya dengan yang bakal gue tulis. Waktu yang berjalan itu emang gak berasa yaa, cepet banget. Sekarang gue udah kuliah aja perasaan baru kemaren ikut MOS SMA hahaha...


Waktu terus berjalan, mengalir layaknya aliran sungai.
Enam bulan telah berlalu semenjak saat itu. Banyak hal yang terjadi, terlalu banyak. Tapi tentunya semua hal yang terjadi mengarah ke hal yang lebih baik. Perubahan demi perubahan terus terjadi, mendesak keluar untuk merubah semua hal yang buruk menjadi hal yang baik.

Berjalan berdampingan bukanlah takdir kita...
Sejak awal mungkin kami memang tak pernah ditakdirkan bersama, bahkan sejak awal seharusnya kami tak pernah berjalan berdampingan. Walau aku tak menyalahkannya, namun aku tetap merasa ada setitik kecil penyesalan yang berkata "mengapa aku sempat berjalan berdampingan denganmu, seharusnya aku tak pernah memilih jalan itu". Bukan jalan yang telah kami lalui yang kusesali, tapi keputusanku untuk membuka celah sehingga ia bisa memasukinya. Seharusnya sejak awal aku tetap menutup rapat, harusnya kuabaikan semua usikan.

Namun karenamu aku belajar banyak hal.
Setiap manusia tentu memilki berbagai pengalaman, dan dari pengalaman itulah kita mempelajari banyak hal. Berjalan berdampingan dengannya merupakan pengalaman yang menceritakan banyak hal, pengalaman yang sulit dilupakan bahkan hingga sekarang. Sebuah pengalaman yang memberikanku pemahaman yang lebih dalam terhadap kehidupan.

Seperti yang pernah aku katakan, aku tidak tahu hingga kapan perasaan ini akan tetap betah melekat, entah berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menariknya keluar. Namun jika dibilang aku tidak pernah berusaha, itu merupakan salah besar. Tiap harinya tentunya terus kucoba untuk menariknya keluar. Hal yang terjadi mungkin bukan perasaan yang tidak merekat lagi dan menghilang, tapi lebih kepada sedikit banyak rasa itu "tertutupi" oleh kesibukan dan semua hal yang kucoba lakukan untuk mengalihkannya.

Aku bersyukur setidaknya usaha yang telah kulakukan tidak sia-sia. Airmata yang seringkali jatuh dulu, telah berkurang kian berkurang hingga kini amat jarang menetes. Kegalauan yang mendatangiku tiap malam kini dapat kuabaikan dan kucoba untuk tidak memikirkannya. Perubahan besar menurutku.

Kesibukan ini memang membantuku mengalihkannya. Membuatku bangkit dan terus melangkah maju. Namun tak dapat dipungkiri kesibukan ini tak dapat menghilangkan rasa kesepian yang seringkali menghinggapi. Rasa kesepian itu terus muncul dan seringkali diikuti rasa rindu. Bukan kegalauan ataupun rasa harap yang dirasa, namun hanya rasa rindu.

Rindu akan semua kenangan, rindu ketika bersama. Berada di tempat yang sama sekarang pun tak membuat rasa rindu ini menghilang. Melihatnya dari jauh, atau saling bertatap mata pun tetap membuatku merasa rindu. Disaat kami baru mengenal, hanya sekedar teman, mulai dekat, muncul rasa, berjalan berdampingan, bertengkar, berpisah, canggung, hingga kini berada di tempat yang sama. Semua hal yang terjadi dari awal hingga saat ini, aku rindu. Aku rindu segalanya.